Blog

Belajar dari GSF 2017 untuk Raih Prestasi Terbaik

SMPK Santa Maria II sebagai salah satu sekolah pengimbasan sekolah Adiwiyata dari SMP Negeri 18 berkesempatan merasakan sebuah kompetisi lingkungan yang memiliki kemiripan dengan persyaratan apa yang harius dipenuhi ketika sekolah yang berada di Jalan Panderman itu memiliki predikat sekolah Adiwiyata. Moment itu adalah digelarnya GSF 2017 yang diselemggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Malang bekerjasama dengan Radar Malang.

Semua proses dalam mempersiapkan GSF 2017 melibatkan semua guru dan karyawan serta peran sentral yakni para siswa. Berpatokan pada 9 bidang/isu yang menjadi penilaian GSF maka setiap pihak harus menuntaskan apa yang menjadi target serta persyaratan minimal yang harus dipersiapkan untuk dijadikan sebagai data pendukung dari 9 bagian/isu GSFtersebut.

Jujur persiapan yang dilakukan sebenarnya termasuk singkat hanya dua minggu dengan konsekuensi mengganti kegiatan ekstrakurikuler dengan persiapan penilaian GSF tersebut. Kata kunci yang menjadi penyemangat para guru, karyawan dan siswa adalah GSF merupakan pintu gerbang untuk membangun lingkungan sekolah yang lebih ramah lingkungan sekaligus sebagai sumber belajar bagaimana siswa mulai memilki habitus hidup dengan memperjuangkan suasa lingkungan yang hijau dan sehat.

Waktupun terus berlalu dengan agenda penilaian yang dilakukan oleh juri GSF di sekolah, tepatnya pada hari Senin, 6 November 2017 sebagai penilaian perdana yang dilakukan oleh tim juri GSF 2017. Sekolah yang berada di bawah pengelolaah Perkumpulan Dharmaputri mencoba memberikan yang terbaik saat penilaian tersebut dijalani.
Tuntas sudah gelaran Green School Festival (GSF) yang sudah berjalan sejak tahapan sosialisasi pada 30 Agustus lalu. Berakhirnya ajang yang dihelat Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang itu ditandai dengan penyerahan penghargaan di Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang (UM), Sabtu lalu (25/11).

GSF menghasilkan 30 pemenang dari 12 kategori. Di antaranya, SMPN 8 (juara 1 non-Adiwiyata SMP) SMPK Santa Maria II masuk sebagai nominator predikat tersebut, SMPN 14 (juara 1 Adiwiyata SMP), SDN Sawojajar 5 (juara 1 Adiwiyata SD), dan SDN Kauman I (juara 1 Adiwiyata SD). Patut dibanggakan juga Mading 3D SMPK Santa Maria berhasil menyabet juara I tingkat SMP

Semoga dengan pengalaman serta prestasi yang telah diraih, SMPK Santa Maria semakin memahami serta mampu mempersiapkan diri hususnya dalam membenahi kualitas infrastruktur, juga sumber daya manusianya setelah mengikuti GSF. Sekaligus GSF memberikan dampak pada penguatan pendidikan karakter siswa. Salah satu poinnya adalah siswa menjadi lebih peduli terhadap lingkungan.

Semoga tahun mendatang semua pihak selaku warga sekolah mampu untuk mempersiapkan diri untuk lebih mampu berbicara serta menunjukkan eksistensi diri sebagai sekolah yang patut mendapatkan penghargaan, khususnya dalam hal membangun lingkungan yang ramah lingkungan serta menjadikan sekolah sebagai sumber belajar para siswa khususnya dalam memahami arti pentingnya lingkungan yang ramah serta bermartabat.

(Foto: Radar Malang)



HARI GURU 2017

Dasar hukum memperingati Hari Guru adalah Kepres yang dimantapkan di UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang menetapkan tanggal 25 November setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Guru Nasional, yang kerap diperingati bersamaan dengan ulang tahun PGRI. Hal ini juga sejalan dengan Peraturan Pemerintah RI No.74 Tahun 2008 tentang Guru Pasal 35, yang menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional

Peringatan hari guru yang jatuh pada tanggal 25 November bisa dijadikan memontum untuk merefleksi apa yang telah dilakukan para guru selama ini. Guru yang dalam bahasa Jawa bisa difilosofiskan sebagai seorang yang bisa digugu dan ditiru yang maksudnya dipercaya, dianut dan diteladani.Ki Hajar Dewantara Bapak Pendidikan Indonesia. Kalimat tersebut memang seharusnya menjiwai semangat mengajar dan mendidik para guru pada era globalisasi ini.Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani yang artinya di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan

Guru yang biasa-biasa saja (cenderung) mengajarkan, guru yang baik memberikan penjelasan, guru yang di atas rata-rata (cenderung) memperagakan dan guru yang hebat adalah yang menginspirasi.Guru dikatakan sebagai sumber inspirasi tatkala pikiran, ucapan, dan tindak tanduknya menjadi anutan bagi anak didik dalam memaknai peristiwa-peristiwa yang ada di sekitarnya dan mampu menggerakkan siswa untuk melakukan perubahan positif dalam kehidupannya di masyarakat.

Pendidikan tanpa Guru, ibarat kebun tanpa pemiliknya. Guru, memiliki peran yang sangat strategis bagi dunia pendidikan. Karena dari semua komponen pendidikan yang ada seperti kurikulum, sarana prasarana, metode pengajaran, guru, siswa, orangtua dan lingkungan, yang paling menentukan adalah Guru. Guru memiliki kedudukan yang sangat mulia, dari merekalah tercipta generasi emas dengan peradaban manusia yang gemilang. Terlebih ia mengemban amanat untuk mewujudkan pendidikan nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Tantangan pendidikan di era informasi saat ini, mengharuskan Guru untuk lebih kreatif, inovatif, dan inspiratif dalam mendesain kegiatan pembelajaran yang bermutu untuk menyongsong generasi emas Indonesia Tahun 2045. Dengan jumlah penduduk lebih dari 240 juta jiwa, Guru menjadi kunci utama keberhasilan sumber daya manusia yang tidak hanya produktif tetapi juga unggul dan religius. Ini juga tidak terlepas dari upaya pemerintah untuk bersinergi mencerdaskan anak bangsa.

Momen Hari Guru Nasional ini tidak sekadar untuk merefleksikan jati diri profesi seorang guru, lebih dari itu kita kembali mengingat substansi peran guru dalam upaya peningkatan mutu pendidikan nasional bagi kehidupan bangsa dan negara. Memberikan teladan kepada para siswanya merupakan salah satu hal yang paling penting dalam pendidikan karakter. Sosok guru di manapun akan menjadi contoh bagi peserta didik, karenanya mereka memandang bahwa ia adalah model pribadi dalam menjali kehidupan ini.

Seorang guru perlu menanamkan habitus (kebiasaan) yang baik bagi muridnya, hal ini dapat dilakukan secara terus menerus seperti mengucapkam salam, menanamkan nilai-nilai kejujuran, berdoa di setiap memulai dan mengakhiri pekerjaan, membiasakan senyum, pembudayaan sikap santun, bersikap baik di dalam maupun di luar sekolah, bukankah bagaimana proses itu terbiasakan? Terlebih urgensi perubahan kurikulum 2013 lebih menitikberatkan pada pembentukan sikap dan karakter yang baik pada setiap proses pembelajaran dapat kita konkritkan!

(ditulis dari berbagai sumber)



Puncak Penganugerahan Jawara GSF 2017

Sabtu, 25 November 2017 di Aula Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang berlangsung penganugerahan pemenang GSF 2017. Sebelumnya pada hari Jumat, 14 November 2017 mulai pukul 09.00 WIB, Gracak mulai didatangi para peserta lomba Mading 3 Dimensi seantero Kota Malang, peserta yang tercatat di dalam gedung sebanyak 60 karya madding 3 dimensi dari 60 sekolah ditambah puluhan madding yang dipajang sepanjang teras gedung Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang.

Mading 3D menjadi salah satu karya yang dikompetisikan sebagai bagian rangkaian GSF 2017. Tim mading 3D SMPK Santa Maria II terdiri dari Airin, Reyna, Tata, dan Maureen. Desain awal mengangkat bangunan sekolah dengan pusat pohon yang tumbuh besar. Pohon memiliki gambaran dua sisi yakni pohon dengan kondisi subur dan gersang. Subur melambangkan bagaimana siswa khususnya sudah mampu menjaga lingkungan secara baik sedangkan pohon yang gersang dan kering menggambarkan bagaimana kita belum mampu menjaga lingkungan alam.

Waktu berprosespun mengalami dinamika sesuai dengan ide-ide yang muncul, akhirnya menjelang penilaian GSF di sekolah bangunan sekolah belum kelihatan tetapi diganti dengan gambaran atau media yang masih menggambarkan dua sisi keadaan alam. Termasuk suasana kesuburan pohon yang menjadi pusat madding masih menggambarkan dedaunan yang hijau. Mading 3D pun masih terus dibenahi termasuk tim madding mendengarkan ide dan saran dari berbagai pihak.

Sekitar 3 hari menjelang pengumpulan karya madding 3D akhirnya, sebagai media yang menggambarkan sekolah harus ditonjolkan dengan membedah salah satu kotak yang berbahan kardus untuk diubah menjadi media yang menggambarkan sekolah dengan diperkuat pemberian lampu disetiap kotak media yang menggambarkan dua sisi alam yang sudah baik dan yang rusak.
Mendekati esok hari pengumpulan madding juga masih terjadi penambahan-penambahan aksesoris madding untuk memberikan kesan kuat pesan yang akan kita tampilkan yakni dengan memberikan dedaunan yang masih dirasa kurang. Akhirnya, Jumat, 24 November sekitar pukul 09.00 mading sudah dirasa sudah memiliki kandungan pesan yang menonjol saat wawacara penilaian. Sekitar pukul 10.00 WIB madding 3D kita antar ke Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang.

Peserta lomba mading3D pada GSF 2017 ini 60 karya ada di dalam gedung Gracak dan masih ada belasan karya dipamerkan di luar gedung Gracak tepatnya di teras. Melihat karya-karya yang dipamerkan semua bagus. Mading 3D masih memperjuangkan antara media dengan isi yang berupa artikel masih berpinsip pada fungsi majalah. Sekitar pukul 18.00 WIB giliran madding 3D dengan nomor 51 SMPK Santa Maria II itu berkesempatan dinilai 3 juri, disana ada tanya jawab antara juri dengan para siswa.

Sabtu, 25 November 2017 mulai pukul 10.00 WIB saatnya penganugerahan penghargaan kesembilan bagian GSF ditambah beberapa penghargaan termasuk lomba madding 3D. Acara demi acara berlangsung di gedung Graha Cakrawala tersebut cukup meriah, begitu pengumuman pemenang lomba mading 3D diumumkan SMPK Santa Maria II disebut dengan predikat sebagai juara I, rasa bangga dan bahagia menuntaskan semua rasa capek yang sudah kami jalani selama kami berproses. Selain itu SMPK Santa Maria II pada GSF 2017 ini sudah mampu masuk menjadi nominasi sekolah non Adiwiyata, semoga pada GSF 2018 kita semakin mampu memberikan prestasi yang lebih baik.

(foto: Radar Malang)


PENILAIAN GREEN SCHOOL FESTIVAL

Sesuai dengan jadwal penilaian dari panitia GSF Kota Malang 2017 yang sudah dipublikasikan, SMPK Santa Maria II mendapatkan jadwal penilaian hari pertama, Senin, 06 November 2017. Anggota tim penilai yang bertugas di SMP Panderman itu adalah Ibu Poppy Riana, S.S., Ibu Dra. Lilik Ernawati, M.Pd dan Bapak Ahzan Muzadi.

Sekitar pukul 10.45 WIB tim juri GSF telah hadir di sekolah, penyambutan dilakukan dengan pengalungan syal warna biru berhiaskan pin SMPK SantaMaria II yang dikalungkan oleh perwakilan siswa dengan menggunakan pakaian daur ulang berbahan kertas koran, yakni Gaby dan Rakha siswa kelas VIII . Pada penyambutan tersebutjuga dihadiri oleh Sr. Dorothea, SPM, selaku kepala sekolah dan beberapa bapak ibu guru dan karyawan.

Sebelum masuk ke lapangan rombongan disambut dengan tari bapang yang ditarikan oleh siswa kelas IX yang terdiri dari 5 anak, dilanjutkan penyambutan oleh semua siswa dari kelas VII sampai IX dengan tepuk karakter serta yel-yel GSF sekolah yang dinyanyikan bersama oleh semua siswa. Setelah itu masih disuguhkan tari modern oelh tim ekstra dance.
Selesai acara penyambutan di lapangan tim dewan juri dipersilakan untuk memasuki ruang kegiatan. Di sana kepala sekolah memberikan sambutannya dengan menekankan bahwa SMPK Santa Maria II sangat antusias untukmengikuti GSF tahu ke dua ini, beliau juga menekankan bahwa menang dan kalah bukan tujuan utama melainkan bagaimana siswa memiliki pengalaman untuk berproses menciptakan sekolah yang hijau, ramah, sehat dan bersih.

Setelah sambutan polisi sekolah yakni Stallion dan Nathania menyampaikan presentasi terkait dengan profil sekolah sampai pada kesembilan bagian dalam penilaian GSF yakni peta umum sekolah, sampah dan polusi, energi, air dan limbah cair, tanaman hijau, resiko, kantin sehat, inovasi teknologi, publikasi dan literasi. Setelah pemaparan profil serta laporan kesembilan kategori berakhir, dewan juri diberikan kesempatan untuk melakukan pencocokan data ke masing-masing bagian dari penilaian GSF.

Para juri langsung menuju ke lapangan untuk mencocokan data serta melakukan tanya jawab terkait dengan masing-masing kriteria penilaian GSF. Ibu Poppy secara eksplsit menegaskan bahwa anatara data yang sudah dikirimka ke panitia dengan fakta dilapangan sudah sesuai, catatan yang diberikan adalah pemberian warna pada setiap indikator yang ditemukan dan yang sudah dilakukan.

Sekitar pukul 13.45 visitasi penilaian dewan juru GSF di SMPK Santa Maria II berakhir, pada kesempatan itu tim juri GSF menegaskan bahwa SMPK Santa Maria II dari pemantauan yang telah dilakukan sepakat bahwa SMP Panderman sudah layak untuk diusulkan sebagai sekolah adiwiyata kota Malang, diluar penilaian GSF tahun 2017. “Semoga GSF ini merupakan batu loncatan untuk meraih predikat sekolah adiwiyata yang semangatnya adalah bagaimana semua warga SMP Panderman semakin memiliki karakter yang konkrit dalam memperjuagkan lingkungan sekolah yang hijau, nyaman, bersih”, ungkap Bu Anna selaku koordinator GSF SMPK Santa Maria II. (T.Th)



GELIAT AKHIR HADAPI PENILAIAN GSF 2017

Minggu, 5 November 2017 beberapa kategori Green School Festival menuntaskan persiapan akhir untuk menyambut juri yang akan menilai kesembilan kategori yang dilombakan, yakni Yakni, mengenai pengelolaan sampah, penggunaan energi, pengelolaan air dan limbah cair, lahan untuk tanaman, risiko yang ada dilingkungan, kantin sehat, inovasi teknologi, serta literasi lingkungan.

Dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, Green School Festival (GSF) menghasilkan sekolah-sekolah yang mampu berprestasi pada GSF menjadi sekolah adiwiyata yang juga akan digelar tahun ini. Sesuai harapan Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang Zubaidah paling tidak akan memberikan pengalaman nyata bagaimana sekolah dan para siswa membiasakan mencintai lingkungan

Selain memperebutkan predikat juara umum, nantinya juga ada 9 sekolah yang menjadi pemenang pada masing-masing kategori. Pada Senin, 6 November 2017 SMPK Santa Maria II mendapatkan giliran perdana dimulainnya penilaian visitasi dari juri untuk mencocokan antara data yang sudah diterima dengan fakta yang ada dilapangan.

Sebelumya pada hari Sabtu para siswa sudah melakukan simulasi pelaksanaan kunjungan dewan juri GSF mulai dari penyambutan sampai saatnya para siswa yang ditunjuk untuk mempresentasikan masing-masing kategori. “Semoga para siswa mampu memberikan penjelasan yang membuat para juri semakin mendapatkan gambaran yang sesuai antara data yang sudah dikirim dengan fakta yang ada di lapangan”, demikian harapan Pak Trianto, disela-sela mempersiapkan madding 3 dimensi sore itu.

Sr. Dorothea, SPM selaku kepala sekolah juga dengan setia ikut mendampingi beberapa bagian yang masih menginginkan persiapan pada hari Minggu itu. Beliau juga berharap semoga yang terbaik bisa dijalani oleh para siswa pada saat penilaian lapangan besok Senin. Semoga yang menjadi harapan panitia GSF yakni bertambahnya sekolah-sekolah di kota Malang yang memiliki predikat sekolah Adiwiyata termasuk sekolah kita, sambil melihat-lihat persiapan bagian literasi dan publikasi yang juga melakukan persiapan terakhirnya.



MENGENAL GREEN SCHOOL FESTIVAL 2017

Green School Festival ini adalah program yang digagas oleh Dinas Pendidikan Kota Malang bekerjasama dengan Radar Malang yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup Kota Malang dimulai dari sekolah. Program ini berupa rangkaian kegiatan workshop dan lomba yang menilai proses penataan lingkungan hidup sekolah dengan melibatkan berbagai komponen sekolah, untuk mempetakan kondisi permasalahan dan potensi lingkungan hidup yang ada, sebagai metode yang memudahkan komponen sekolah dalam merencanakan pengelolaan dan peningkatan kualitas lingkungan hidup di sekolah, dengan tujuan akhir sekolah yang makin hijau, lestari dan ramah lingkungan. Metode ini bernama Green School Mapping. Selain workshop dan lomba tersebut, dalam rangkaian kegiatan Green School Festival terdapat pula kegiatan lomba Majalah Dinding 3 Dimensi bertema lingkungan hidup dan Pentas Seni Hijau.

Green School Festival ini diharapkan diikuti oleh semua sekolah di Kota Malang, tingkat SD, SMP, SMA dan SMK negeri maupun swasta. Diadakannya program Green School Festival ini, diharapkan dapat mencetak generasi-generasi muda yang peduli terhadap lingkungan.

Agar pelaksanaan Green School Mapping mudah dipahami dan diterapkan oleh sekolah-sekolah, tim panitia menyusun modul tutorial sebagai panduan dalam menyusun pemetaan lingkungan di sekolah. Untuk itu dilibatkanlah lembaga Move Indonesia sebagai tim lapang yang akan memandu dan menjaga konten lingkungan hidup yang ada. Move Indonesia adalah lembaga independen yang bergerak di bidang pendidikan dan pelestarian lingkungan hidup, yang mendapatkan mandat untuk membuat konsep, merancang workshop, dan sebagai pelaksana kegiatan di lapang, hingga menentukan metode penjurian bersama tim Radar Malang dan Dinas Pendidikan. Seluruh rangkaian
kegiatan ini akan dilaksanakan dengan metode yang menyenangkan sehingga diharapkan guru, siswa dan semua yang terlibat dapat menikmati dengan sukacita.

Semoga amanah untuk berjuang bagi lingkungan hidup ini selalu bisa dijaga dan menjadi nafas bagi sekolah-sekolah dan warga di Kota Malang. Semoga kota Malang semakin hijau dan lestari.