Misa Jumat Pertama Bulan Maret 2019

Jumat, 01 Maret 2019 program kerja Spiritualitas dan Moralitas menyelenggarakan Misa Jumat pertama. Sekitar pukul 07.00 WIB setelah dari kelas bersama wali kelas para siswa melepas sepatu dan mempersiapkan misa dengan berbaris sesuai dengan kelas di lapangan.
Misa Jumat pertama bulan Maret itu dipersembahkan oleh Romo Jimmy Fantaou dari Paroki Ijen. Pada khotbahnya Romo yang masih muda itu mengajak para siswa untuk menyadari makna sebuah persahabatan. Hal ini sesuai dengan renungan harian yang menegaskan kepada kita. Gereja menegaskan lagi prakteknya yang berdasarkan Kitab Suci, untuk tidak mengizinkan mereka yang bercerai, kemudian menikah lagi, menyambut Ekaristi Kudus. Mereka tidak dapat diijinkan, karena status dan kondisi hidup mereka berlawanan dengan persatuan cinta kasih antara Kristus dan Gereja, yang dilambangkan oleh Ekaristi dan merupakan buahnya. Selain itu masih ada alasan pastoral khusus lainnya. Seandainya mereka itu diperbolehkan menyambut Ekaristi, umat beriman akan terbawa dalam keadaan sesat dan bingung mengenai ajaran Gereja, bahwa pernikahan tidak dapat diceraikan.
Tampak Yesus memperkeras apa yang ditulis dalam hukum Taurat. Ia mau menekankan pentingnya kasih dan kesatuan dalam perkawinan dan juga kesucian hati. Kalau kita ingin menjadi murid Yesus dalam hal kasih perkawinan dan juga seksualitas, maka kita harus hidup lebih baik dalam perkawinan dan berkeluarga. Apa yang bisa kita pelajari dari Injil hari ini? Pertama, perceraian tidak pernah menjadi kehendak Allah. Sejak awal dunia Allah menghendaki laki-laki dan perempuan menjadi satu kesatuan. Perceraian hanya merupakan salah satu tanda ketegaran hati manusia!
Sahabat setiawan merupakan perlindungan kokoh. Sahabat setiawan adalah obat kehidupan adalah penegasan Romo Jimmy dalam mengakhiri renungan misa tersebut. “Semoga dengan renungan dan khotbah romo semakin menyadarkan para siswa untuk memaknai persahabatan secara universal dan tepat,” demikian pendapat Pak Bambang Rusmakno sambil meninggalkan lapangan setelah selesai misa Jumat pertama itu.

Studi Wisata Kelas VIII

Jumat 22 Februari 2019 sebanyak 4 bus sekitar pukul 07.30 WIB membawa semua siswa kelas VIII bersama para wali kelas didukung beberapa pengurus P4 (komite sekolah) menuju Kebun Raya Purwodadi dan Candi Singasariuntuk melaksanakan studi wisata
Sebelum berangkat para siswa berkumul di lapangan untuk mendapatkan pengarahan teknis, absensi serta doa bersama. Pada kesempatan itu Ibu Thereia Damayanti selaku koordinator menegaskan tata tertib serta berbagai tugas yang harus dilakukan di dua lokasi studi wisata tersebut.
Perjalanan menuju Kebun Raya Purwodadi berjalan lancar. Pukul 08.30 semua rombongan telah sampai di tujuan. Program studi wisata ini merupakan program bersama antara pengurus P4 dengan kesiswaan. Setelah di lokasi para siswa langsung dibagi menjadi 9 kelompok untuk dipandu oleh petugas Kebun Raya Purwodadi ke beberapa titik yang sudah dipersiapkan.
Aktivitas terpimpin dilalukan sampai pukul 11.15 dilanjutkan dengan aktivitas bebas sesuai dengan minat perhatian siswa di sekitar Kebun Raya Purwodadi sampai pukul 12.15. Sekitar pukul 12. 30 rombongan meninggalan Kebun Raya Purwodadi untuk menuju Rumah Makan Jeng Sri sekitar 10 menit perjalanan tepatnya di selatan Kebun Raya Purwodadi.
Setelah makan siang langsung menuju lokasi kedua yakni Candi Singosari. Karena cuaca yang tidak mendukung rombongan hanya sempat mendengarkan narasumber candi Singosari sekitar 30 menit karena ditengah-tengah pemaparan dan pengenalan sejarah Candi Singosari hujan lebat mewarnai keberadaan kami di candi tersebut.
Setelah semua siswa masuk ke bus masing-masing rombongan akhirnya meninggalkan lokasi untuk menuju ke Malang. Walapun objek terakhir diiringi dengan hujan lebat para siswa nampak senang dalam menjalani studi wisata tersebut. “ Wah asyik ya? Kegiatan kita hari ini” ungkap Fenly salah satu siswa kelas VIII yang berasal dari Papua penuh rasa kagum dan puas dengan pengalaman tersebut.
Rombongan tiba di sekolah sekitar pukul 15.30 dengan selamat. Beberapa siswa yang sudah dijemput oleh orangtuanya langsung pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan yang belum dijemput beberapa siswa duduk bergerombol sambil sesekali tertawa senang sambil bercerita pengalaman yang meraka dapatkan selama studi wisata. “Semoga kegiata ini paling tidak menambah serta membuka pengetahuan mereka khususnya dalam mengenal beberapa tanaman langka serta sejarah Candi Singosari” ujar Pak Suhadi salah satu pendamping kegiatan tersebut sambil berjalan menuju ke ruang guru.

Pensi SMPK Santa Maria II Malang

Sebagai kegiatan tiga tahunan Pentas Seni SMPK Santa Maria II dari tahun ke tahun mencoba untuk menyajikan sesuatu yang berbeda. Ini semua dilatarbelakangi perkembangan zaman serta dinamika peserta Pensi yang selalu melibatkan semua siswa di SMP Panderman itu.
Sudah ke empat kalinya ini Pentas Seni SMPK Santa Maria selalu menggunakan fasilitas di luar sekolah. Pertama kali Pensi di luar sekolah menggunakan Dome Universitas Muhamadiyah Malang 2010, 2013, Graha Cakra Universitas Negeri Malang 2016, dan kembali lagi ke Dome Universitas Muhammadiyah Malang 2019 tepatnya Sabtu, 9 Februari 2019
Pentas seni atau yang lebih dikenal dengan singkatan “Pensi” merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan dalam bentuk pertunjukkan berbagai macam kreatifitasseni yang dilakukan oleh anak-anak sekolah di dalam lingkungan sekolah mereka. Menurut para ahli, pengertian pentas seni adalah wujud pertunjukkan seni dalam berbagai bentuk, seperti: pertunjukan musik, tarian, drama/teater dan berbagai macam bentuk ktreatifitas seni lainnya yang dilakukan oleh para siswa dan siswi yang bersekolah di dalam sekolah tersebut.
Pada Pentas Seni 2019 ini mengundang bintang tamu vokalis Jazz dari Jakarta. Konsep Pensi menurut Ibu Anna Maria selaku coordinator acara menegasakan bahwa isi atau sajian pentas seni masih menekankan pada tampilan-tampilan yang menggambarkan cinta budaya nusantara
Kegiatan ini bernama PENTAS SENI SMPK SANTA MARIA II 2019 “CITA & CINTA PANDERMANIA UNTUK BUMI PERSADA” Setiap pribadi siswa memiliki beraneka ragam talenta yang terkadang talenta tersebut belum sempat dikembangkan bahkan dikenali. Sebagai wujud tanggung jawab sekolah dalam menggali bahkan mengembangkan talenta itu harus memberikan wadah yang diharapkan mampu menampung, mengembangkan dan mengekspresikan talenta-talenta yang beraneka ragam tersebut. Kompetensi ini selain harus dapat diaplikasikan oleh peserta didik juga harus dapat diintegrasikan pada kecakapan hidup (life skill) secara nyata, yang pada gilirannya mereka diharapkan mampu secra mandiri mengatasi masalah yang dihadapinya.
Kemampuan minimal yang harus dimiliki peserta didik mencakup kompetensi-kompetensi sebagai berikut :
– pengetahuan
– keterampilan
– kecakapan
– kemandirian
– kreativitas
– kesehatan
– keimanan dan
– kewarganegaraan
Di SMPK Santa Maria II Malang, kompetensi-kompetensi tersebut selain diwujudkan dengan kegiatan formal yang dikemas dalam kegiatan Belajar Mengajar (Intra dan Ko-kurikuler), juga dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang diarahkan untuk membina dan mengembangkan kreativitas siswa baik yang bersifat akademik maupun non akademik.
Berdasarkan tuntutan kurikulum tersebut, serta sesuai dengan visi dan misi sekolah, setiap sivitas akademika di SMPK Santa Maria II Malang dengan 6 pilar senantiasa berusaha agar dapat meningkatkan partisipasi aktif dan kreaktivitas para peserta didik guna mengaktualisasikan potensi para siswa. Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan partisipasi aktif dan kreaktivitas peserta didik yaitu dengan mengadakan berbagai kegiatan ektrakurikuler yang dikemas dalam bebagai kegiatan, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Kegiatan yang bersifat internal berupa perlombaan atau pertandingan antar siswa/wi SMPK Santa Maria II Malang, sedangkan kegiatan eksternal berupa kegiatan yang melibatkan para siswa dari sekolah-sekolah lain.

Pelantikan Pengurus OSIS

Sr. Dorothea SPM, S.Pd pada hari Senin, 12 November 2018 bertindak sebagai Pembina upacara dalam rangka upacara hari Pahlawan sekaligus melantik pengurus OSIS periode 2018-2019. Pada kesempatan itu beliau mengingatkan bahwa Peringatan Hari Pahlawan Nasional menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk melakukan introspeksi. Sampai seberapa jauh setiap komponen bangsa dapat mewarisi nilai-nilai kepahlawanan, melanjutkan perjuangan, mengisi kemerdekaan demi mencapai NKRI yang sejahtera, adil dan makmur.

Pada kesempatan itu pula beliau berharap agar para pengurus OSIS yang baru dilantik mampu untuk menempatkan diri sebagai pribadi yang siap belajar untuk menjadi penerus generasi yang semakin berkualitas. Sekaligus bangsa Indonesia saat ini memerlukan pahlawan baru, sosok yang berdedikasi dan berprestasi pada bidangnya untuk memajukan negeri. Sosok yang dimaksud tersebut adalah generasi penerus/pelajar yang punya jiwa patriotisme, pantang menyerah, berdisiplin, berkarakter, menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan di bidangnya.

Peristiwa pertempuran Surabaya adalah bukti bagaimana semangat pemuda selalu menjadi ujung tombak dalam setiap perjuangan baik dalam memepertahankan maupun mengisi kemerdekaan maka sudah menjadi kewajiban kita untuk menghargai sangat tinggi warisan kemerdekaan dari para pahlawan kusuma bangsa melalui semangat belajar dan berkarya demi kejayaan Bangsa Indonesia.

Regina Aletha Alayna Rahajeng selaku ketua OSIS baru pada sambutannya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan pada pemungutan suara sehingga ia terpilih secara demoktaris kepada semua siswa, semoga ia mampu mengarahkan semua kativitas kesiswaan dalan kepengurusan OSIS agar semakin mampu meningkatkan peranan dan partisipasi para siswa dalam mendukung setiap program OSIS maupun program sekolah yang terintegrasi sebagai sarana pembelajaran

Semangat Sumpah Pemuda 2018

Tahun 2018 ini Indonesia menjadi tua rumah pergelaran pesta olahraga terbesar di Asia yaitu Asian Games 2018 dan Asian Para Games 2018. Maka dari itu, Logo yang diambil untuk HSP ke-90 Tahun 2018 ini memiliki kemiripan dengan logo Asian Games dan juga Asian Para Games. Adapun Tema yang diusung untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke-90 adalah ” Bangun Pemuda Satukan Bangsa”.Semangat itulah yang juga terlihat pada kemeriahan hari Sumpah Pemuda di SMPK Santa Maria II. Setelah melaksanakan upacara bendera dilanjutkan dengan penampilan parade puisi Sumpah Pemuda yang dibawakan oleh anak-anak ekstrakurikuler teater.

Pada hari Senin tanggal 29 Oktober 2018 itu semua siswa terlibat aktif dalam berbagai lomba yang sudah dipersiapkan oleh panitia, di antaranya lomba cipta dan baca puisi, cerpen, poster, stand up comedi, cerdas cermat Alkitab, lektor, mazmur, pembuatan vlog, tembang bahasa Jawa, speech, dan story telling. Perlombaan yang dilaksanakan pada saat itu sekaligus mewadahi aktivitas BKSN, kompetensi bahasa Inggris dan bahasa Jawa, termasuk pemanfaatan IT melalui lomba pembuatan vlog.

Menurut Ibu Dekananda selaku ketua BBS 2018, “Semoga kegiatan ini benar-benar mampu menggali semua potensi anak-anak Panderman sekaligus kita mencari bibit kompetensi siswa saat mewakili sekolah dalam berbagai perlombaan.” Semoga semangat Sumpah Pemuda semakin hidup dalam setiap perjuangan para siswa dalam menggali potensi serta melatih dan meningkatkan talenta yang mereka miliki, imbuh salah satu amanat upacara Sumpah Pemuda yang dibina oleh Ibu Agnes pagi itu.

Sumber Foto: www.malangpostonline.com
Sekolah Adiwiyata label tambahan SMPK Santa Maria II
Sumber Foto: www.malangpostonline.com
Sumber Foto: www.malangpostonline.com

Perjuangan SMPK Santa Maria II dalam menambah label sebagai sekolah beradiwiyata provinsi tahun 2018 ini diawali dengan perjuangan sekolah adiwiyata kota Malang. Predikat sekolah adiwiyata tersebut memiliki empat kriteria yang dinilai dalam seleksi adiwiyata provinsi oleh tim asesor. Antara lain kebijakan, kurikulum, partisipan dan sarana prasarana. Sekolah adiwiyata harus memiliki kebijakan peduli dan berbudaya lingkungan.
Sr. Dorothea selaku kepala sekolah menegaskan bahwa keempat kriteria tersebut sudah menjadi visi misi sekolah yang selalu dikonkritkan dalam pengembangan pembelajaran pendidikan lingkungan hidup dan lain-lain. Khususnya bidang kurikulum harus berbasis pada lingkungan. Salah satu implementasinya yaitu guru harus mampu mengintegrasikan setiap mata pelajaran dengan materi lingkungan.
Sekolah juga selalu mengajak peran aktif masyarakat untuk ikut peduli terhadap kelestarian lingkungan. Dalam hal ini, sekolah juga melibatkan orang tua siswa dan masyarakat sekitar dalam sebuah kegiatan aksi lingkungan hidup. Semua itu dibuktikan dengan keterlibatan orangtua setiap kelas dalam memprakarsai pengembangan pendidikan lingkungan di sekolah yang sudah ditentukan lokasi setiap kelasnya.
Indikator penilaian yang keempat yaitu pengelolaan atau pengembangan sarana pendukung di sekolah. Menurutnya, dalam mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan perlu didukung dengan sarana dan prasarana yang mencerminkan upaya pengelolaan lingkungan hidup.
Penerimaan sertifikat sekolah beradiwiyata tingkat Provinsi dilaksanakan saat Perkemahan Hijau di Paiton Probolinggo pada taanggal 23- 26 September 2018. Sekolah mengirimkan delegasi siswa dan siswi sebanyak 7 siswa didampingi oleh 4 guru. Mereka beraktivitas baik mendengarkan pemaparan materi lingkungan maupun praktik dalam memanfaatkan barang-barang daur ulang.